Tampilkan postingan dengan label Penulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penulisan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 April 2016

UTS....


Tanpa terasa sebentar lagi masa-masa uts akan datang. Sebagian orang merasa gelisah karena mengkhawatirkan jika nilai jelek akan mempengaruhi IPK mereka. Sebagian lagi mungkin ada yang merasa masa bodo karena bagi mereka belajar ataupun tidak IPKnya bakal pas-pasan juga. Mungkin ada juga yang hanya dengan sedikit mengulang materi perkuliahan, cukup untuk persiapan ujian.

Menghadapi uts ini, saya akan mempersiapkan diri sebaik mungkin. Tentunya saya akan mengulang kembali materi perkuliahan yang telah diberikan. Saya kembali membaca materi materi perkuliahan yang telah diberikan. Dan jika misalnya soal itu berupa hitungan, saya akan mencoba berbagai soal yang berkaitan dengan materinya. Dan jika berupa kodingan saya mencoba mempraktekkannya sesuai bahasa pemrograman yang digunakan. Biasanya saya mengulang suatu materi sampai merasa jenuh, terus refreshing lalu belajar materi lagi.

Pada saat akan ujian, jangan lupa untuk berdoa memohon diberikan kelancaran sebelum, pada saat dan setelah ujian. Pada saat mengerjakan soal uts, hal terpenting adalah konsentrasi dan jangan merasa tegang dan panik agar materi yang sudah dipahami tidak lupa.


Jumat, 15 April 2016

RA Kartini, sang pahlawan emansipasi wanita

Ibu kita Kartini, putri sejati
Putri Indonesia, harum namanya

Anda pasti mengenal lirik lagu diatas. Ya! Lirik lagu diatas merupakan penggalan dari lagu “Ibu Kita Kartini” karya WR Supratman. Sesuai dengan lagu tersebut kali ini saya akan membahas profil dari RA Kartini.


Nama lengkap: Raden Ajeng Kartini
Nama lain: Raden Ayu Kartini
Lahir: Jepara, 21 April 1879
Wafat: Rembang, 17 September 1904
Dikenal karena: Emansipasi wanita
Agama: Islam
Pasangan: K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat
               
Raden Ajeng Kartini lahir di Jepara pada tanggal 21 April tahun 1879, Hari kelahirannya itu kemudian diperingati sebagai Hari Kartini untuk menghormati jasa-jasanya pada bangsa Indonesia. Karena Kartini lahir dari keluarga bangsawan maka ia mendapat gelar Raden Ajeng (RA) di depan namanya. Ayahnya bernama R.M. Adipati Aria Sosroningrat, putra dari Pangeran Ario Tjondronegoro IV, seorang bangsawan yang menjabat sebagai bupati jepara. Ayahnya memiliki status terpandang karena jabatan sebagai bupati Jepara tersebut. Ibu kartini yang bernama M.A. Ngasirah, putri seorang kiai atau guru agama di Telukawur, Kota Jepara. Menurut sejarah, Kartini merupakan keturunan dari Sri Sultan Hamengkubuwono VI, bahkan ada yang mengatakan bahwa garis keturunan ayahnya berasal dari kerajaan Majapahit.

Karena status ayahnya, Kartini dapat bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Disinilah Kartini kemudian belajar Bahasa Belanda dan bersekolah disana hingga ia berusia 12 tahun sebab peraturan ketika itu anak perempuan yang telah berusia 12 tahun harus dipingit hingga dilamar.

Meskipun berada di rumah, R.A Kartini aktif dalam melakukan surat-menyurat dengan temannya yang berada di Belanda karena kemahiran berbahasa Belanda. Ia juga banyak membaca surat kabar, majalah, dan buku-buku kebudayaan Eropa seperti “De Stille Kraacht” dan “Max Havelaar”. Dari situ, Kartini mulai tertarik dengan pola pikir perempuan Eropa yang ia baca dari surat kabar, majalah serta buku-buku yang dibacanya. Dari aktivitasnya tersebut ia berpikir untuk memajukan perempuan pribumi yang kala itu memiliki status sosial yang cukup rendah. R.A. Kartini memberi perhatian khusus pada masalah emansipasi wanita melihat perbandingan antara wanita Eropa dengan wanita pribumi. 

Teman wanita Belandanya Rosa Abendanon, dan Estelle "Stella" Zeehandelaar juga mendukung pemikiran-pemikiran yang diungkapkan oleh R.A Kartini. Sejarah mengatakan bahwa Kartini diizinkan oleh ayahnya untuk menjadi seorang guru sesuai dengan cita-cita tetapi dengan syarat dilarang melanjutkan studi ke Batavia (Jakarta) bahkan Belanda.

Hingga pada akhirnya, ia tidak dapat melanjutanya cita-citanya baik belajar menjadi guru di Batavia atau kuliah di Belanda walau mendapat beasiswa untuk belajar disana karena pada tahun 1903, ia dinikahkan dengan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat yang merupakan seorang bangsawan dan juga bupati di Rembang yang telah memiliki tiga orang istri.

Meskipun begitu, suami R.A Kartini mendukung keinginan R.A Kartini sehingga ia kemudian diberi kebebasan untuk mendirikan sekolah wanita pertama yang kemudian berdiri di sebelah kantor pemerintahan Kabupaten Rembang. Sekolah tersebut sekarang dikenal sebagai Gedung Pramuka.

Dari pernikahannya dengan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, R.A Kartini kemudian melahirkan anak bernama Soesalit Djojoadhiningrat yang lahir pada tanggal 13 September 1904, Tetapi 4 hari setelah kelahiran anaknya, R.A Kartini wafat pada tanggal 17 September 1904 di usia yang masih sangat muda yaitu 25 tahun. Beliau kemudian dikebumikan di Desa Bulu, Kabupaten Rembang.

Berkat perjuangannya, Sekolah Kartini berdiri di Semarang kemudian meluas ke Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon serta daerah lainnya. Sekolah tersebut kemudian diberi nama "Sekolah Kartini" untuk menghormati jasa-jasanya. Selain itu, seorang pria Belanda bernama J.H. Abendanon mengabadikan kumpulan surat-suratnya kedalam sebuah buku berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Penghargaan RA Kartini
- Ditetapkan sebagai pahlawan kemerdekaan pada 2 Mei 1964
- Hari lahirnya dikenang sebagai hari Kartini
- Namanya dijadikan nama jalan di beberapa kota Belanda seperti Amsterdam, Utrecht, Venlo, dan Haarlem

Minggu, 20 Maret 2016

Misteri Supersemar

Surat Perintah Sebelas Maret (supersemar) adalah surat perintah yang ditandatangani oleh Soekarno selaku presiden Indonesia saat itu pada tanggal 11 Maret 1966. Surat ini berisi perintah yang menginstruksikan Soeharto selaku Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) untuk mengambil segala tindakan yang dianggap perlu untuk mengatasi situasi keamanan yang buruk pada saat itu. Saat ini terdapat beberapa versi dari supersemar yang masih diperdebatkan manakah supersemar yang asli.
Menurut versi resmi, awalnya keluarnya supersemar terjadi ketika pada tanggal 11 Maret 1966, Presiden Soekarno mengadakan sidang pelantikan Kabinet Dwikora yang disempurnakan yang lebih dikenal dengan nama "kabinet 100 menteri". Pada saat sidang dimulai, Brigjen Sabur selaku panglima pasukan pengawal presiden Tjakrabirawa melaporkan bahwa banyak "pasukan liar" yang belakangan diketahui adalah Pasukan Kostrad dibawah pimpinan Mayor Jendral Kemal Idris yang bertugas menahan orang-orang yang berada di Kabinet yang diduga terlibat G-30S di antaranya adalah Wakil Perdana Menteri I Soebandrio. Berdasarkan laporan tersebut, Presiden bersama Wakil perdana Menteri I Soebandrio dan Wakil Perdana Menteri III Chaerul Saleh berangkat ke Bogor dengan helikopter yang sudah disiapkan. Sementara Sidang akhirnya ditutup oleh Wakil Perdana Menteri II Dr.J. Leimena yang kemudian menyusul ke Bogor.
Mayor Jendral Soeharto mengutus tiga orang perwira tinggi AD ke Bogor untuk menemui Presiden Soekarno di Istana Bogor yakni Brigjen M. Jusuf, Brigjen Amirmachmud dan Brigjen Basuki Rahmat. Setibanya di Istana Bogor, pada malam hari, terjadi pembicaraan antara tiga perwira tinggi AD dengan Presiden Soekarno mengenai situasi yang terjadi dan ketiga perwira tersebut menyatakan bahwa Mayjen Soeharto mampu mengendalikan situasi dan memulihkan keamanan bila diberikan surat tugas atau surat kuasa yang memberikan kewenangan kepadanya untuk mengambil tindakan. Menurut Jendral (purn) M Jusuf, pembicaraan dengan Presiden Soekarno hingga pukul 20.30. Hingga akhirnya Presiden Soekarno menandatangani supersemar yang berisi perintah kepada Mayjen Soeharto untuk mengambil tindakan yang perlu untuk memulihkan keamanan dan ketertiban.
Menurut peneliti sejarah LIPI Asvi Marwan Adam, sebelum 11 Maret 1966, Soekarno pernah didatangi oleh dua pengusaha utusan Mayjen Alamsjah Ratu Prawiranegara. Kedua pengusaha itu, Hasjim Ning dan Dasaad, datang untuk membujuk Soekarno menyerahkan kekuasaan kepada Soeharto.  Akan tetapi, Soekarno menolak, bahkan sempat marah dan melempar asbak. "Dari situ terlihat ada usaha untuk membujuk dan menekan Soekarno telah dilakukan, kemudian diikuti dengan pengiriman tiga jenderal ke Istana Bogor," ungkap Asvi. Setelah Supersemar dibuat oleh Soekarno, Soeharto menggunakannya dengan serta-merta untuk melakukan aksi beruntun sepanjang Maret 1966.
Pengawal kepresidenan Sukardjo Wilardjito menuturkan bahwa sang presiden dalam kondisi tertekan saat meneken surat itu.  Bahkan, dia menyebutkan bahwa jenderal AD bernama Maraden Panggabean menghadap Soekarno dan menodong pistol FN 46 saat menyerahkan dokumen Supersemar. Ia juga menuturkan bahwa saat itu ada empat Jenderal yang menemui Presiden Soekarno. Mereka adalah para anak buah yang diutus Soeharto untuk mendapat mandat dari Soekarno. Keempat jenderal itu adalah Mayjen Basuki Rahmat, M. Yusuf, Brigjen Amir Mahmud, dan Maraden Panggabean. Mereka sudah siap membawa map berisi dokumen Supersemar yang disusun oleh Alamsyah dan diketik Ali Murtopo dari Badan Pusat Intelijen (BPI).
Tetapi Maraden Panggabean membantah kesaksian Sukardjo. "Saya sedih memperhatikan betapa bejat moral dan mentalitas seorang mantan perwira, yang bernama Soekardjo Wilardjito, yang mengisahkan berita bohong," tutur Maraden Panggabean, yang tahun 1966 menjabat Wakil Panglima Angkatan Darat (Kompas, 28 Agustus 1998). Saat itu Maraden mengaku tidak ada di Bogor, melainkan di Markas Besar Angkatan Darat Jakarta.